Selasa, 13 Maret 2012

Kimia Analisa Kualitatif

BAB I
PENDAHULUAN

             Titrasi merupakan metode analisa kimia secara kuantitatif yang biasa digunakan dalam laboratorium untuk menentukan konsentrasi dari reaktan. Karena pengukuran volum memainkan peranan penting dalam titrasi, maka teknik ini juga dikenali dengan analisa volumetrik. Analisa titrimetri merupakan satu dari bagian utama dari kimia analitik dan perhitungannya berdasarkan hubungan stoikhiometri dari reaksi-reaksi kimia. Analisa cara titrimetri berdasarkan reaksi kimia seperti: aA + tT → hasil dengan keterangan: (a) molekul analit A bereaksi dengan (t) molekul pereaksi T. Pereaksi T, disebut titran, ditambahkan secara sedikit-sedikit, biasanya dari sebuah buret, dalam bentuk larutan dengan konsentrasi yang diketahui. Larutan yang disebut belakangan disebut larutan standar dan konsentrasinya ditentukan dengan suatu proses standarisasi. Penambahan titran dilanjutkan hingga sejumlah T yang ekivalen dengan A telah ditambahkan. Maka dikatakan baha titik ekivalen titran telah tercapai. Agar mengetahui bila penambahan titran berhenti, kimiawan dapat menggunakan sebuah zat kimia, yang disebut indikator, yang bertanggap terhadap adanya titran berlebih dengan perubahan warna. Perubahan warna ini dapat atau tidak dapat trejadi tepat pada titik ekivalen. Titik titrasi pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir. Tentunya merupakan suatu harapan, bahwa titik akhir ada sedekat mungkin dengan titik ekivalen. Memilih indikator untuk membuat kedua titik berimpitan (atau mengadakan koreksi untuk selisih keduanya) merupakan salah satu aspek penting dari analisa titrimetri. Istilah titrasi menyangkut proses ntuk mengukur volum titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Selama bertahun-tahun istilah analisa volumetrik sering digunakan daripada titrimetrik. Akan tetapi dilihat dari segi yang ketat, istilah titrimetrik lebih baik, karena pengukuran-pengukuran volum tidak perlu dibatasi oleh titrasi. Pada analisa tertentu misalnya, orang dapat mengukur volum gas.
Sebuah reagen yang disebut sebagai peniter, yang diketahui konsentrasi (larutan standar) dan volumnya digunakan untuk mereaksikan larutan yang dititer yang konsentrasinya tidak diketahui. Dengan menggunakan buret terkalibrasi untuk menambahkan peniter, sangat mungkin untuk menentukan jumlah pasti larutan yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir. Titik akhir adalah titik di mana titrasi selesai, yang ditentukan dengan indikator. Idealnya indikator akan berubah warna pada saat titik ekivalensi—di mana volum dari peniter yang ditambahkan dengan mol tertentu sama dengan nilai dari mol larutan yang dititer. Dalam titrasi asam-basa kuat, titik akhir dari titrasi adalah titik pada saat pH reaktan hampir mencapai 7, dan biasanya ketika larutan berubah warna menjadi merah muda karena adanya indikator pH fenolftalein. Selain titrasi asam-basa, terdapat pula jenis titrasi lainnya.
Banyak metode yang dapat digunakan untuk mengindikasikan titik akhir dalam reaksi; titrasi biasanya menggunakan indikator visual (larutan reaktan yang berubah warna). Dalam titrasi asam-basa sederhana, indikator pH dapat digunakan, sebagai contoh adalah fenolftalein, di mana fenolftalein akan berubah warna menjadi merah muda ketika larutan mencapai pH sekitar 8.2 atau melewatinya. Contoh lainnya dari indikator pH yang dapat digunakan adalah metil jingga, yang berubah warna menjadi merah dalam asam serta menjadi kuning dalam larutan alkali.
Tidak semua titrasi membutuhkan indikator. Dalam beberapa kasus, baik reaktan maupun produk telah memiliki warna yang kontras dan dapat digunakan sebagai "indikator". Sebagai contoh, titrasi redoks menggunakan potasium permanganat (merah muda/ungu) sebagai peniter tidak membutuhkan indikator. Ketika peniter dikurangi, larutan akan menjadi tidak berwarna. Setelah mencapai titik ekivalensi, terdapat sisa peniter yang berlebih dalam larutan. Titik ekivalensi diidentifikasikan pada saat munculnya warna merah muda yang pertama (akibat kelebihan permanganat) dalam larutan yang sedang dititer.
Akibat adanya sifat logaritma dalam kurva pH, membuat transisi warna yang sangat tajam; sehingga, satu tetes peniter pada saat hampir mencapai titik akhir dapat mengubah nilai pH secara signifikan—sehingga terjadilah perubahan warna dalam indikator secara langsung. Terdapat sedikit perbedaan antara perubahan warna indikator dan titik ekivalensi yang sebenarnya dalam titrasi. Kesalahan ini diacu sebagai kesalahan indikator, dan besar kesalahannya tidak dapat ditentukan.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Titrasi merupakan analisa jenis volumetri, yang mana suatu sampel yang akan diketahui konsentrasinya direaksikan dengan suatu bahan lain yang diketahui jumlah Molaritas (M) atau Normalitas (N) zat itu dengan tepat. Bahan tersebut umumnya berupa larutan, yang komposisi dan konsentrasinya telah diketahui dengan teliti dan tepat, larutan ini dinamakan dengan larutan baku. Bila yang terkandungnya memiliki kemurnian yang tinggi, stabil, penanganannya mudah, maka disebut sebagai bahan baku primer. Larutan baku ini ditambahkan dari buret (titrant) sedikit demi sedikit ke larutan erlenmayer (titrat), sampai jumlah za-zat yang direaksikan tepat menjadi ekivalen satu sama lain. Dalam titrasi diperlukan suatu penunjuk titik akhir yang biasa disebut dengan istilah Indikator. Indikator adalah senyawa organik (umumnya) atau anorganik yang digunakan dalam titrasi untuk menentukan dan menunjukkan titik akhir suatu titrasi. Dalam pemakaiannya, indikator ada memberikan warna pada larutan misalnya pada Kompleksometri atau juga berupa suatu endapan ini pada titrasi Argentometri.
1.      Dalam titrasi ada pula yang tidak memerlukan indikator sebagai penunjuk titik akhir titrasi, hal ini memungkinkan karena zat asalnya yang berwarna dan memiliki perbedaan warna pada awal titrasi dengan warna akhir titrasi yang cukup kontras dan mencolok, sebagai contoh pada titrasi Permanganometri yang memiliki larutan titer yang berwarna ungu dengan warna merah muda pucat pada titik akhir titrasi. Istilah yang sering digunakan adalah Autoindikator.
Bila suatu indikator dalam suatu titrasi kita pergunakan untuk menunjukkan titik akhir titrasi, maka :
Indikator harus berubah warna tepat pada saat titrant menjadi ekivalen dengan titrat agar tidak terjadi kesalahan titrasi (yakni selisih antara titik akhir dan titik ekivalen). Untuk memenuhinya maka trayek indikator harus mencakup pH larutan pada titik ekivalen, atau sangat mendekatinya.
2.      Perubahan warna harus terjadi dengan mendadak, agar tidak ada keragu-raguan tentang kapan titrasi harus dihentikan. Untuk memenuhinya maka trayek indikator harus memotong bagian yang sangat curam dari kurva titrasi.


Pembagian Indikator dalam titrasi :
1)      Indikator Asam Basa (Acid Base Indicators)
Titrasi yang menggunakan indikator ini adalah titrasi Asidimetri dan alkalimetri.
2)       Indikator Pengendapan dan Adsorpsi.
Titrasi yang menggunakan indikator ini adalah titrasi presipitimetri seperti pada Argentometri.
3)       Auto indikator.
Titrasi yang menggunakan indikator ini adalah titrasi Iodometri, Permanganometri, Iodimetri dan Bromatometri.
4)       Indikator Redoks
Titrasi yang menggunakan indikator ini adalah titrasi Bromatometri, Serimetri, dan titrasi K2Cr2O7, Iodimetri dan Iodometri.
5)       Indikator dalam (Internal Indicator)
Titrasi yang menggunakan indikator ini adalah titrasi Nitrimetri
6)       Indikator luar (Eksternal Indicator)
Titrasi yang menggunakan indikator ini adalah titrasi Nitrimetri
7)       Indikator Metal (Metalochromatic Indicators)
Titrasi yang menggunakan indikator ini adalah titrasi Kompleksometri dan Kelatometri.


BAB III
PEMBAHASAN

      I.            INDIKATOR ASAM BASA

Indikator untuk titrasi asam basa memegang peranan yang amat penting disebabkan indicator ini akan menunjukkan kita dimana titik akhir titrasi berlangsung. Pemilihan indicator yang tepat akan sangat membantu dalam keberhasilan titrasi yang akan kita lakukan. Jangan sampai kita salah memilih indicator yang menyebabkan terjadinya kesalahan dalam penentuan titik akhir titrasi.
Untuk memilih indicator yang akan dipakai pada titrasi asam basa maka terlebih dahulu kita harus memperhatikan trayek pH indicator tersebut. Misalkan kita memiliki indicator asam lemah HIn dimana bentuk takterionisasinya berwarna merah sedangkan bentuk terionisasinya berwarna kuning.
HIn  à  H+   +  In-
Merah               Kuning
Perubahan warna HIn terjadi pada kisaran pH tertentu. Perubahan ini tampak bergantung pada kejelihan penglihatan orang yang melakukan titrasi. Untuk warna indicator yang terjadi akibat terbentuknya dari transisi kedua warna (misal HIn berubah dari warna merah ke kuning maka kemungkinan warna transisinya adalah oranye), maka umumnya hanya satu warna yang akan teramati jika perbandingan kedua konsentrasi adalah 10:1 jadi hanya warna dengan konsentrasi yang paling tinggi yang akan terlihat.
Sebagai contoh jika hanya warna kuning yang terlihat maka konsentrasi [In-]/[HIn] = 10/1 dan jika kita masukkan ke persamaan Henderson-Hasselbalch diperoleh :
pH = pKa + log 10/1 = pKa + 1
dan jika hanya warna merah yang terlihat maka konsentrasi [In]/HIn] = 1/10 sehingga:
pH = pKa + log 1/10 = pKa – 1
Jadi pH indicator akan berubah dari kisaran warna yang satu dengan yang lain adalah berkisar antara pKa-1 sampai dengan pKa + 1, dan pada titik tengah daerah transisi perubahan warna indicator konsentrasi [In-] akan sama dengan [HIn] oleh sebab itu pH = pKa.
Dengan demikian kita dapat memilih suatu indicator dengan cara mimilih indicator yang nilai pKa-nya adalah mendekati nilai pH pada titik ekuivalen atau untuk pH indicator dari basa lemah nilai pKb-nya yang mendekati nilai pH ekuivalen. Contoh indicator pp yang dipakai untuk titrasi asam kuat dan basa kuat atau asam lemah dan basa kuat, indikato metil merah yang dipakai untuk titrasi basa lemah dan asam kuat.







TABEL 1. Beberapa Indikator Asam Basa












1)      Merah Kresol ( Red Cresol )

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/17/Cresol_Red.svg/200px-Cresol_Red.svg.png
Merah kresol (nama lengkap: o-Cresolsulfonephthalein) adalah triarylmethane pewarna yang sering digunakan untuk memantau pH dalam akuarium.
Cresol Red (pH indicator)
below pH 7.2
above pH 8.8
7.2
8.8





Merah kresol dapat digunakan di berbagai reaksi biologi molekular umum di tempat pewarna dermaga lainnya. Merah kresol tidak menghambat polimerase Taq ke tingkat yang sama seperti lainnya pewarna loading umum.
Merah kresol juga dapat digunakan sebagai penanda warna untuk memantau proses elektroforesis agarosa gel dan elektroforesis gel poliakrilamid. Dalam 1% agarose gel itu berjalan kira-kira pada ukuran 125 pasangan basa (pb) DNA molekul (tergantung pada konsentrasi buffer dan komponen lainnya). Bromofenol biru dan cyanol xilena juga dapat digunakan untuk tujuan ini.

2)      Jingga metil (methyl Orange)
Jingga metil adalah salah satu indikator yang banyak digunakan dalam titrasi. Pada larutan yang bersifat basa, jingga metil berwarna kuning dan strukturnya adalah:
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/mostructbase.gif
Sekarang, anda mungkin berfikir bahwa ketika anda menambahkan asam, ion hidrogen akan ditangkap oleh yang bermuatan negatif oksigen. Itulah tempat yang jelas untuk memulainya.
Pada faktanya, ion hidrogen tertarik pada salah satu ion nitrogen pada ikatan rangkap nitrogen-nitrogen untuk memberikan struktur yang dapat dituliskan seperti berikut ini:
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/mostructacid.gif
Anda memiliki kesetimbangan yang sama antara dua bentuk jingga metil seperti pada kasus lakmus – tetapi warnanya berbeda.
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/moeqm.gif
Anda sebaiknya mencari sendiri kenapa terjadi perubahan warna ketika anda menambahkan asam atau basa. Penjelasannya identik dengan kasus lakmus – bedanya adalah warna.
Pada kasus jingga metil, pada setengah tingkat dimana campuran merah dan kuning menghasilkan warna jingga terjadi pada pH 3.7 – mendekati netral. Ini akan diekplorasi dengan lebih lanjut pada bagian bawah halaman.
3)      Lakmus

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/aa/7-hydroxyphenoxazone.png/220px-7-hydroxyphenoxazone.png
Lakmus adalah asam lemah. Lakmus memiliki molekul yang sungguh rumit yang akan kita sederhanakan menjadi HLit. "H" adalah proton yang dapat diberikan kepada yang lain. "Lit" adalah molekul asam lemah.
Tidak dapat dipungkiri bahwa akan terjadi kesetimbangan ketika asam ini dilarutkan dalam air. Pengambilan versi yang disederhanakan kesetimbangan ini:
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/padding.gifhttp://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/liteqm.gif
Lakmus yang tidak terionisasi adalah merah, ketika terionisasi adalah biru.
Sekarang gunakan Prinsip Le Chatelier untuk menemukan apa yang terjadi jika anda menambahkan ion hidroksida atau beberapa ion hidrogen yang lebih banyak pada kesetimbangan ini.
Penambahan ion hidroksida:
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/litbase.gif
Penambahan ion hidrogen:
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/litacid.gif
Jika konsentrasi Hlit dan Lit- sebanding:
Pada beberapa titik selama terjadi pergerakan posisi kesetimbangan, konsentrasi dari kedua warna akan menjadi sebanding. Warna yang anda lihat merupakan pencampuran dari keduanya.
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/litneutral.gif
Alasan untuk membubuhkan tanda kutip disekitar kata "netral" adalah bahwa tidak terdapat alasan yang tepat kenapa kedua konsentrasi menjadi sebanding pada pH 7. Untuk lakmus, terjadi perbandingan warna mendekati 50 / 50 pada saat pH 7 – hal itulah yang menjadi alasan kenapa lakmus banyak digunakan untuk pengujian asam dan basa. Seperti yang akan anda lihat pada bagian berikutnya, hal itu tidak benar untuk indikator yang lain.

4)      Fenolftalein (PP)
Fenolftalein adalah indikator titrasi yang lain yang sering digunakan, dan fenolftalein ini merupakan bentuk asam lemah yang lain.
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/phpheqm.gif
Pada kasus ini, asam lemah tidak berwarna dan ion-nya berwarna merah muda terang.


Contoh indicator phenolphtalein
Penambahan ion hidrogen berlebih menggeser posisi kesetimbangan ke arah kiri, dan mengubah indikator menjadi tak berwarna. Penambahan ion hidroksida menghilangkan ion hidrogen dari kesetimbangan yang mengarah ke kanan untuk menggantikannya – mengubah indikator menjadi merah muda.Setengah tingkat terjadi pada pH 9.3. Karena pencampuran warna merah muda dan tak berwarna menghasilkan warna merah muda yang pucat, hal ini sulit untuk mendeteksinya dengan akurat.

5)      Biru bromotymol ( Bromthymol blue )
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/0e/Bromothymol-blue-2D-skeletal.png/200px-Bromothymol-blue-2D-skeletal.png




Bromothymol biru (juga dikenal sebagai phthalein sulfon bromothymol, Bromthymol Blue, dan BTB) adalah indikator kimia untuk asam lemah dan basa. kimia ini juga digunakan untuk mengamati kegiatan fotosintesis atau indikator pernapasan (berubah kuning sebagai CO2 ditambahkan).
Bromothymol biru bertindak sebagai asam lemah dalam larutan. Dengan demikian dapat berupa terprotonasi atau terdeprotonasi, muncul kuning dan biru masing-masing. Hal ini hijau kebiruan dalam larutan netral. Hal ini biasanya dijual dalam bentuk padat sebagai garam natrium indikator asam. Hal ini juga menemukan penggunaan sesekali di laboratorium sebagai slide biologis noda. Pada titik ini sudah biru, dan menjatuhkan satu atau dua digunakan pada slide air. Slip cover ditempatkan di atas tetesan air dan spesimen di dalamnya, dengan warna biru campuran masuk Hal ini kadang-kadang digunakan untuk mendefinisikan dinding sel atau inti di bawah mikroskop.
Bromothymol biru banyak digunakan untuk mengukur zat yang akan memiliki tingkat asam atau dasar relatif rendah (dekat dengan pH netral). Hal ini sering digunakan dalam pengelolaan pH kolam dan tangki ikan, dan untuk mengukur keberadaan asam karbonat dalam cairan.
Sebuah demonstrasi sifat umum pH BTB's indikator melibatkan mengembuskan melalui tabung ke dalam larutan netral BTB. Seperti karbon dioksida diserap dari nafas ke dalam larutan, membentuk asam karbonat, solusi perubahan warna dari hijau ke kuning. Dengan demikian, BTB umumnya digunakan dalam kelas-kelas sains sekolah menengah untuk menunjukkan bahwa semakin bahwa otot yang digunakan, semakin besar output CO2.

below pH 6.0
above pH 7.6
6.0
7.6
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7d/Bromothymol_blue_colors.jpg/200px-Bromothymol_blue_colors.jpg
Bromothymol juga digunakan dalam kebidanan untuk mendeteksi ketuban pecah dini. cairan ketuban biasanya memiliki bromothymol pH> 7,2, sehingga akan berubah biru ketika dibawa kontak dengan cairan bocor dari amnion. Sebagai pH vagina normal bersifat asam, warna biru menunjukkan adanya cairan ketuban. Pengujian mungkin palsu-positif di hadapan zat alkalin lain seperti darah, air mani, atau di hadapan vaginosis bakteri.

6)      Timol biru ( Thymol Blue )
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/bc/Thymolblau_skeletal.png/225px-Thymolblau_skeletal.png
Timol biru (thymolsulphonephthalein) adalah bubuk kristal hijau kecoklatan atau coklat kemerahan yang digunakan sebagai indikator pH. Hal ini tidak larut dalam air tetapi larut dalam alkohol dan larutan alkali encer. Ini transisi dari merah ke kuning pada pH 1,2-2,8 dan dari kuning ke biru pada pH 8,0-9,6.


7)      Metil Kuning ( Methyl Yellow )
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/1e/Methyl_yellow.png/200px-Methyl_yellow.png

Metil kuning, atau C.I. 11.020, adalah senyawa kimia yang dapat digunakan sebagai indikator pH.
Methyl yellow (pH indicator)
below pH 2.9
above pH 4.0
2.9
4.0









Dalam larutan air pada pH rendah, kuning metil muncul merah. Antara pH 2,9, dan 4,0 metil kuning mengalami transisi, menjadi kuning di atas pH 4,0.
Indikator tambahan yang tercantum dalam artikel tentang indikator pH.
Sebagai "kuning mentega" agen telah digunakan sebagai bahan tambahan makanan sebelum toksisitasnya diakui (Opie EL)



8)      Merah Metil ( Methyl Red )
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/b4/Methyl_red.svg/240px-Methyl_red.svg.png
Metil merah, juga disebut C.I. Asam Merah 2, merupakan zat warna indikator yang berubah merah dalam larutan asam. Ini adalah zat warna azo, dan merupakan bubuk kristal berwarna merah tua.Metil merah merupakan indikator pH, melainkan merah pada pH di bawah 4,4, kuning pada pH lebih dari 6.2, dan oranye di antara, dengan pKa 5,1 .Murexide dan merah metil yang diteliti sebagai peningkat menjanjikan kehancuran SONOKIMIA polutan hidrokarbon diklorinasi.Metil merah digolongkan oleh IARC dalam kelompok 3 - unclassified untuk potensial karsinogenik pada manusia. Sebagai zat warna azo, Metil Merah dapat dibuat dengan diazotization asam antranilat, diikuti dengan reaksi dengan dimethylaniline.
Di mikrobiologi, merah metil digunakan dalam Metil Merah (MR) Test, digunakan untuk mengidentifikasi bakteri penghasil asam yang stabil melalui mekanisme fermentasi asam campuran glukosa (lih. Voges-Proskauer (VP) test).Uji metil merah adalah "M" bagian dari empat tes IMViC digunakan untuk karakterisasi bakteri enterik. Uji metil merah digunakan untuk mengidentifikasi bakteri enterik berdasarkan pola metabolisme glukosa mereka. Semua enterics awalnya menghasilkan asam piruvat dari metabolisme glukosa. Beberapa enterik kemudian gunakan jalur asam diramu untuk metabolisme asam piruvat menjadi asam lain, seperti asam laktat, asetat, dan format. Bakteri ini disebut Escherichia coli metil-merah positif dan menyertakan dan Proteus vulgaris. enterics lain yang kemudian menggunakan jalur glikol buytylene untuk metabolisme asam piruvat ke produk akhir-netral. Bakteri ini disebut metil-merah-negatif dan termasuk Serratia marcescens dan Enterobacter aerogenes.


9)         Metil Violet
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/53/Methyl_Violet_2B.png/200px-Methyl_Violet_2B.png
Methyl violet 2B (C24H28N3Cl)
Methyl violet adalah keluarga senyawa organik yang terutama digunakan sebagai pewarna. Tergantung pada jumlah kelompok metil melekat, warna pewarna dapat diubah. Kegunaan utamanya adalah sebagai pewarna ungu untuk tekstil dan memberikan warna ungu jauh di dalam cat dan tinta. 10B Methyl violet (dikenal dengan banyak nama berbeda) memiliki keperluan medis
Methyl violet 2B (pH indicator)
below pH 0.0
above pH 1.6
0.0
1.6
Istilah metil violet mencakup tiga senyawa yang berbeda dalam jumlah kelompok metil terikat pada gugus fungsional amina. Mereka semua larut dalam air, etanol, glikol dietilena glikol dan dipropylene



10)  Malachite Hijau

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/d0/Malachite_green_structure.svg/200px-Malachite_green_structure.svg.png



           Malachite hijau merupakan senyawa organik yang digunakan sebagai Dyestuff dan telah muncul sebagai agen kontroversial di akuakultur. Malachite hijau secara tradisional digunakan sebagai pewarna untuk bahan seperti sutra, kulit, dan kertas. Meskipun hijau malachite disebut, senyawa ini tidak berhubungan dengan perunggu mineral - nama hanya berasal dari kesamaan warna.
Struktur dan sifat
Malachite Green adalah anggota dari garam triphenylcarbenium, diklasifikasikan dalam industri zat warna sebagai pewarna triarylmethane. Secara formal, Malachite Green mengacu pada garam klorida [C6H5C (C6H4N (CH3) 2) 2] Cl, meskipun Malachite Green istilah digunakan secara longgar dan sering hanya mengacu pada kation berwarna. Garam oksalat juga dipasarkan. Anion klorida dan oksalat tidak berpengaruh pada warna. Warna hijau kuat dari hasil kation dari sebuah band serapan kuat pada 621 nm (kepunahan koefisien 105 M-1cm-1).
Malachite green (first transition) (pH indicator)
below pH 0.2
above pH 1.8
0.2
1.8

Malachite green (second transition) (pH indicator)
below pH 11.5
above pH 13.2
11.5
13.2

Malachite hijau disusun oleh larutan benzaldehida dan dimethylaniline untuk memberikan leuco hijau malachite (LMG):

C6H5CHO + 2 C6H5N(CH3)2 à C6H5CH(C6H4N(CH3)2)2 + H2O

Kedua, senyawa ini leuco tidak berwarna, yang relatif triphenylmethane, teroksidasi untuk kation yang MG:
C6H5CH(C6H4N(CH3)2)2 + HCl + 1/2 O2 à [C6H5C(C6H4N(CH3)2)2]Cl + H2O

   
Agen pengoksidasi khas adalah mangan dioksida.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/39/MalachiteGr%26Leuco.png/638px-MalachiteGr%26Leuco.png
Di sebelah kiri adalah leuco-Malachite Green (LMG) dan di sebelah kanan adalah dua struktur resonansi setara kation MG. Turunan carbinol MG berasal dari LMG oleh penggantian CH unik oleh C-OH.Hidrolisis MG memberikan bentuk carbinol:

[C6H5C(C6H4N(CH3)2)2]Cl + H2O à C6H5C(OH)(C6H4N(CH3)2)2 + HCl
alkohol Hal ini penting karena, tidak MG, melintasi membran sel. Setelah masuk sel, itu dimetabolisme menjadi LMG. Hanya MG kation adalah sangat berwarna, sedangkan LMG dan turunannya carbinol tidak. Perbedaan ini timbul karena hanya berupa kationik telah memperpanjang pi-delokalisasi, yang memungkinkan molekul untuk menyerap cahaya tampak.





Tabel . GUGUS CHROMOPHORE INDIKATOR ASAM BASA

No
Indikator Asam Basa
Gugus Chromophore
1.
Kresol Red ( Red Cresol )
Nitro dan Quinoid Group
2.
Jingga metil (Methyl orange)
Azo Group
3.
Lakmus
Nitro dan Quinoid Group
4.
Fenolftalein (PP)                
Quinoid dan Carbonil group
5.
Biru bromotymol ( Bromothymol blue )
Quinoid Group          
6.
Timol biru ( Thymol Blue )
Carbonil Group dan Quinoid Group.
7.
Metil Kuning ( Methyl Yellow )              
Azo group dan Quinoid group
8.
Merah Metil ( Methyl Red )       
Quinoid group
9.
Metil Violet

Azo dan Quinoid Group
10.
Malachite Hijau
Azo dan Quinoid Group











*    Pentingnya pKind
Berpikirlah tentang indikator yang umum, HInd – dimana "Ind" adalah bagian indikator yang terlepas dari ion hidrogen yang diberikan keluar:
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/padding.gifhttp://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/hindeqm.gif
Karena hal ini hanya seperti asam lemah yang lain, anda dapat menuliskan ungkapan Ka untuk indikator tersebut. Kita akan menyebutnya Kind untuk memberikan penekanan bahwa yang kita bicarakan di sini adalah mengenai indikator.
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/kind.gif
Pikirkanlah apa yang terjadi pada setengah reaksi selama terjadinya perubahan warna. Pada titik ini konsentrasi asam dan ion-nya adalah sebanding. Pada kasus tersebut, keduanya akan menghapuskan ungkapan Kind.
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/kind2.gif
anda dapat menggunakan hal ini untuk menentukan pH pada titik reaksi searah. Jika anda menyusun ulang persamaan yang terakhir pada bagian sebelah kiri, dan kemudian mengubahnya pada pH dan pKind, anda akan memperoleh:
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/pkind.gif
Hal itu berarti bahwa titik akhir untuk indikator bergantung seluruhnya pada harga pKind. Untuk indikator yang kita miliki dapat dilihat dibawah ini:
Indikator
pKind
lakmus
6.5
jingga metil
3.7
fenolftalein
9.3





*    Rentang pH indikator

Indikator tidak berubah warna dengan sangat mencolok pada satu pH tertentu (diberikan oleh harga pKind-nya). Malahan, mereka mengubah sedikit rentang pH.
Dengan mengasumsikan kesetimbangan benar-benar mengarah pada salah satu sisi, tetapi sekarang anda menambahkan sesuatu untuk memulai pergeseran tersebut. Selama terjadi pergeseran kesetimbangan, anda akan memulai untuk mendapatkan lebih banyak dan lebih banyak lagi pembentukan warna yang kedua, dan pada beberapa titik mata akan mulai mendeteksinya.
Sebagai contoh, jika anda menggunakan jingga metil pada larutan yang bersifat basa maka warna yang dominan adalah kuning. Sekarang mulai tambahkan asam karena itu kesetimbangan akan mulai bergeser.
Pada beberapa titik akan cukup banyak adanya bentuk merah dari jingga metil yang menunjukkan bahwa larutan akan mulai memberi warna jingga. Selama anda melakukan penambahan asam lebih banyak, warna merah akhirnya akan menjadi dominan yang mana anda tidak lagi melihat warna kuning.
Terjadi perubahan kecil yang berangsur-angsur dari satu warna menjadi warna yang lain, menempati rentang pH. Secara kasar "aturan ibu jari", perubahan yang tampak menempati sekitar 1 unit pH pada tiap sisi harga pKind.
Harga yang pasti untuk tiga indikator dapat kita lihat sebagai berikut:
Indikator
pKind
pH rentang pH
Lakmus
6.5
5 – 8
jingga metil
3.7
3.1 – 4.4
fenolftalein
9.3
8.3 – 10.0



Perubahan warna lakmus terjadi tidak selalu pada rentang pH yang besar, tetapi lakmus berguna untuk mendeteksi asam dan basa pada lab karena perubahan warnanya sekitar 7. Jingga metil atau fenolftalein sedikit kurang berguna.
Berikut ini dapat dilihat dengan lebih mudah dalam bentuk diagram.
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/indranges.gif
Gambar  2.Diagram Perubahan warna lakmus terhadap pH
Sebagai contoh, jingga metil akan berwarna kuning pada tiap larutan dengan pH lebih besar dari 4.4. Hal ini tidak dapat dibedakan antara asam lemah dengan pH 5 atau basa kuat dengan pH 14.

*    Pemilihan Indikator untuk Titrasi
Harus diingat bahwa titik ekivalen titrasi yang mana anda memiliki campuran dua zat pada perbandingan yang tepat sama. anda tak pelak lagi membutuhkan pemilihan indikator yang perubahan warnanya mendekati titik ekivalen. Indikator yang dipilih bervariasi dari satu titrasi ke titirasi yang lain.
a)      Asam kuat vs basa kuat
Diagram berikut menunjukkan kurva pH untuk penambahan asam kuat pada basa kuat. Bagian yang diarsir pada gambar tersebut adalah rentang pH untuk jingga metil dan fenolftalein.
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/sasbinds.gif
Gambar 3. Pengaruh pH terhadap penambahan asam kuat pada basa kuat
anda dapat melihat bahwa tidak terdapat perubahan indikator pada titik ekivalen.
Akan tetapi, gambar menurun tajam pada titik ekivalen tersebut yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan pada volume asam yang ditambahkan apapun indikator yang anda pilih. Akan tetapi, hal tersebut berguna pada titrasi untuk memilihih kemungkinan warna terbaik melalui penggunaan tiap indikator.
Jika anda mengguanakan fenolftalein, anda akan mentitrasi sampai fenolftalein berubah menjadi tak berwarna (pada pH 8,8) karena itu adalah titik terdekat untuk mendapatkan titik ekivalen.
Dilain pihak, dengan menggunakan jingga metil, anda akan mentitrasi sampai bagian pertama kali muncul warna jingga dalam larutan. Jika larutan berubah menjadi merah, anda mendapatkan titik yang lebih jauh dari titik ekivalen.
b)     Asam kuat vs basa lemah
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/sawbinds.gif
Gambar 4. Pengaruh pH terhadap penambahan asam kuat pada basa lemah

Kali ini adalah sangat jelas bahwa fenolftalein akan lebih tidak berguna. Akan tetapi jingga metil mulai berubah dari kuning menjadi jingga sangat mendekati titik ekivalen.anda memiliki pilihan indiaktor yang berubah warna pada bagian kurva yang curam.
c)      Asam lemah vs basa kuat
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/wasbinds.gif
Gambar 5. Pengaruh pH terhadap penambahan asam lemah pada basa kuat

Kali ini, jingga metil sia-sia! Akan tetapi, fenolftalein berubah warna dengan tepat pada tempat yang anda inginkan.

d)     Asam lemah vs basa lemah
Kurva berikut adalah untuk kasus dimana asam dan basa keduanya sebanding lemahnya – sebagai contoh, asam etanoat dan larutan amonia. Pada kasus yang lain, titik ekivalen akan terletak pada pH yang lain.
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/wawbinds.gif
Gambar 6. Pengaruh pH terhadap penambahan asam lemah pada basa kuat
Anda dapat melihat bahwa kedua indikator tidak dapat digunakan. Fenolftalein akan berakhir perubahannya sebelum tercapai titik ekivalen, dan jingga metil jauh ke bawah sekali.
Ini memungkinkan untuk menemukan indiaktor yang memulai perubahan warna atau mengakhirinya pada titik eqivalen, karena pH titik ekivalen berbeda dari kasus yang satu ke kasus yang lain, anda tidak dapat mengeneralisirnya.
Secara keseluruhan, anda tidak akan pernah mentitrasi asam lemah dan asam basa melalui adanya indikator.





*    Contoh pemakaian indikator phenolftalein dan jingga metal pada larutan natrium karbonat dan asam hidroklorida encer
Berikut ini adalah kasus yang menarik. Jika anda menggunakan fenolftalein atau jingga metil, keduanya akan memberikan hasil titirasi yang benar – akan tetapi harga dengan fenolftalein akan lebih tepat dibandingkan dengan bagian jingga metil yang lain.
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/carbtitinds.gif
Hal ini terjadi bahwa fenolftalein selesai mengalami perubahan warnanya pada pH yang tepat dengan titik ekivalen pada saat untuk pertamakalinya natrium hidrogenkarbonat terbentuk.
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/padding.gifhttp://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/carbhcl2.gif
Perubahan warna jingga metil dengan tepat terjadi pada pH titik ekivalen bagian kedua reaksi.
*      http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/kfisika/carbhcl3.gif


   II.            TITRASI REDOKS ( Oksidasi-Reduksi )
Reaksi redoks secara luas digunakan dalam analisa titrimetri baik untuk zat anorganik maupun organik.Reaksi redoks dapat diikuti dengan perubahan potensial, sehingga reaksi redoks dapat menggunakan perubahan potensial untuk mengamati titik akhir satu titrasi. Selain itu cara sederhana juga dapat dilakukan dengan menggunakan indikator. Titrasi redoks melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi antara titrant dan analit.Titrasi redoks banyak dipergunakan untuk penentuan kadar logam atau senyawa yang bersifat sebagai oksidator atau reduktor. Aplikasi dalam bidang industri misalnya penentuan sulfite dalam minuman anggur dengan menggunakan iodine, atau penentuan kadar alkohol dengan menggunakan kalium dikromat. Beberapa contoh yang lain adalah penentuan asam oksalat dengan menggunakan permanganate, penentuan besi(II) dengan serium(IV), dan sebagainya.
Berdasarkan jenis oksidator atau reduktor yang dipergunakan dalam titrasi redoks, maka dikenal beberapa jenis titrimetri redoks seperti iodometri, iodimetri danm permanganometri.
1)      Iodimetri dan Iodometri
Teknik ini dikembangkan berdasarkan reaksi redoks dari senyawa iodine dengan natrium tiosulfat. Oksidasi dari senyawa iodine ditunjukkan oleh reaksi dibawah ini :
I2 + 2 e à 2 I-          Eo = + 0,535 volt
Sifat khas iodine cukup menarik berwarna biru didalam larutan amilosa dan berwarna merah pada larutan amilopektin. Dengan dasar reaksi diatas reaksi redoks dapat diikuti dengan menggunaka indikator amilosa atau amilopektin.
Analisa dengan menggunakan iodine secara langsung disebut dengan titrasi iodimetri. Namun titrasi juga dapat dilakukan dengan cara menggunakan larutan iodida, dimana larutan tersebut diubah menjadi iodine, dan selanjutnya dilakukan titrasi dengan natrium tiosulfat, titrasi tidak iodine secara tidak langsung disebut dengan iodometri. Dalam titrasi ini digunakan indikator amilosa, amilopektin, indikator carbon tetraklorida juga digunakan yang berwarna ungu jika mengandung iodine.
2)      Permanganometri
Permanganometri merupakan titrasi redoks menggunakan larutan standar Kalium permanganat. Reaksi redoks ini dapat berlangsung dalam suasana asam maupun dalam suasana basa. Dalam suasana asam, kalium permanganat akan tereduksi menjadi Mn2+ dengan persamaan reaksi :
MnO4- + 8 H+ + 5 e à Mn2+ + 4 H2O
Berdasarkan jumlah ellektron yang ditangkap perubahan bilangan oksidasinya, maka berat ekivalen Dengan demikian berat ekivalennya seperlima dari berat molekulnya atau 31,606. Dalam reaksi redoks ini, suasana terjadi karena penambahan asam sulfat, dan asam sulfat cukup baik karena tidak bereaksi dengan permanganat. Larutan permanganat berwarna ungu, jika titrasi dilakukan untuk larutan yang tidak berwarna, indikator tidak diperlukan. Namun jika larutan permangant yang kita pergunakan encer, maka penambahanindikator dapat dilakukan. Beberapa indikator yang dapat dipergunakan seperti feroin, asam N-fenil antranilat.
Analisa dengan cara titrasi redoks telah banyak dimanfaatkan, seperti dalam analisis vitamin C (asam askorbat). Dalam analisis ini teknik iodimetri dipergunakan. Pertama-tama, sampel ditimbang seberat 400 mg kemudian dilarutkan kedalam air yang sudah terbebas dari gas carbondioksida (CO2), selanjutnya larutan ini diasamkan dengan penambahan asam sulfat encer sebanyak 10 mL. Titrasi dengan iodine, untuk mengetahui titik akhir titrasi gunakan larutan kanji atau amilosa.


INDIKATOR REDOKS
A.    Indikator Redoks Reversibel

Tidak semua indikator redoks dapat dipakai untuk sembarang titrasi redoks. Pemilihan indikator yang cocok ditentukan oleh kekuatan oksidasi titrat dan titrant, dengan perkataan lain, potensial titik ekivalen titrasi tersebut. Bila potensial peralihan indikator tergantung dari pH, maka juga harus diusahakan agar pH tidak berubah selama titrasi berlangsung.
Untuk titrasi dengan Ce4+ dapat dipakai Ferroin; sedangkan untuk titrasi dengan Cr2O7 = Ferroin tidak cocok karena potensial perubahan ferroin terlalu tinggi dibandingkan dengan potensial TE. Maka dipakai difenilamin atau difenilamin sulfonat. Sebenarnya kedua indikator ini kebalikan dari ferroin dalam arti potensial peralihannya terlalu rendah. Namun dengan asam fosfat 3 M kesulitan ini teratasi karena potensial TE diturunkan sehingga sesuai untuk penggunaan difenilamin atau garam sulfonatnya. Penurunan potensial terjadi karena asam fosfat (H3PO4) mengkompleks Fe3+ tetapi tidak mengkompleks Fe2+, sehingga konsentrasi Fe3+ bebas selalu rendah. Berikut Beberapa Contoh – contoh Indikator Redoks yang sering digunakan:

            1. Kompleks Fe ( II ) – ortofenentrolin
                                Suatu golongan senyawa organik yang dikenal dengan nama 1,10 fenantrolin ( Ortofenantrolin ) yang membentuk kompleks yang stabil dengan Fe ( II ) dan ion-ion lain melalui kedua atom N pada struktur induknya. Sebuah ion Fe2+ berikatan dengan tiga buah molekul fenantrolin dan membentuk kelat dengan struktur.

Kompleks ini terkadang disebut FERROIN dan ditulis (Ph)3Fe2+ agar sederhana. Besi yang terikat dalam ferroin itu mengalami oksidasi reduksi secara reversible.

Walaupun kompleks (Ph)3 Fe2+ berwarna biru muda, dalam kenyataannya, warna dalam titrasi berubah dari hampir tak berwarna menjadi merah. Karena kedua warna berbeda intensitas, maka titik akhir dianggap tercapai pada saat baru 10 % dari indikator berbentuk (Ph)3Fe2+. Oleh sebab itu maka potensial peralihannya kira – kira 1,11 Volt dalam larutan H2SO4 1 M.
Phenanthroline Fe(II) (Redox indicator)
E0= 1.06 V
Reduced
Oxidized
This box: view · talk · edit
Diantara semua indikator redoks, Ferroin paling mendekati bahan yang ideal. Perubahan warnanya sangat tajam, larutannya mudah dibuat dan sangat stabil. Bentuk teroksidasinya amat tahan terhadap oksidator kuat. Reaksinya cepat dan reversibel. Diatas 60 oC, Ferroin terurai.


2. Difenilamin dan turunannya
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/18/Diphenylamine.png/200px-Diphenylamine.png





Ditemukan pertama kali dan penggunaannya dianjurkan oleh Knop pada tahun 1924 untuk titrasi Fe2+ dengan kalium bikhromat.
Reaksi pertama membentuk difenilbenzidine yang tak berwarna; reaksi ini tidak reversibel. Yang kedua membentuk violet difenilbenzidine, reversibel dan merupakan reaksi indikator yang sebenarnya.
Potensial reduksi reaksi kedua kira – kira 0.76 volt. Walaupun ion H+ tampak terlibat, ternyata perubahan keasaman hanya berpengaruh kecil atas potensial ini, mungkin karena asosiasi ion tersebut dengan hasil yang berwarna itu.
Kekurangan difenilamain antara lain ialah indikator ini harus dilarutkan dalam asam sulfat pekat karena sulit larut dalam air. Hasil oksidasi ini membentuk endapan dengan ion Wolfram sehingga dalam Analisa , ion tersebut tidak dapat dipakai. Akhirnya ion merkuri memperlambat reaksi indikator ini. Derivat difenilamin yaitu Asam Difenilamin Sulfonat, tidak mempunyai kelemahan – kelemahan diatas :
·         Garam Barium atau Natrium dari asam ini dapat digunakan untuk membuat larutan indikator dalam air dan sifatnya serupa dengan induknya.
·          Perubahan warna sedikit lebih tajam, dari tak berwarna , melalui hijau menjadi violet.
·          Potensial peralihannya 0.8 volt dan juga tak tergantung dari konsentrasi asam. Asam sulfonat derivat ini sekarang banyak digunakan dalam titrasi redoks.


B.     Indikator Redoks Irreversibel

Indikator ini digunakan pada titrasi Bromatometri. Contoh yang sering digunakan adalah Methyl Red (MR) dan Methyl Orange (MO).

Reaksi yang terjadi berupa oksidasi dari indikator MR atau MO menjadi senyawa yang tidak berwarna oleh Brom bebas (Br2). Brom ini berasal dari :
KBrO3 + HCl à KCl + HBr + 3 O
2 HBr + O
à H2O + Br2
Br2 + MO / MR
à Teroksidasi (Tidak berwarna)

C.    Indikator Redoks Khusus (Tidak terpengaruh Potensial redoks)

Indikator ini dipakai pada Iodometri dan Iodimetri, indikator yang biasa digunakan adanya Amylum dan Chloroform. Pemakaian indikator ini tidak terpengaruh oleh naik turunnya bilangan oksidasi atau potensial larutan, melainkan berdasarkan pembentukan kompleks dengan iodium.
1.      Amylum
Penggunaan Indikator ini berdasarkan pembentukan kompleks Iod-Amylum yang larut dengan Iodium (I2) yang berwarna biru cerah. Mekanisme pewarnaan biru ini karena terbentuknya suatu senyawa dala dari amilum dan atom iod. Fraksi Amilosa-amilum mempunyai bentuk helikal dan dengan itu membentuk celah berbentuk saluran. Dalam saluran itu terdapat suatu rantai iod linear, Warna biru disebabkan oleh ketujuh elektron luar atom Iod yang mudah bergerak.

I2 + Amylum
à Iod-Amylum (biru)
Iod-Amylum + S2O32- à Warna Hilang

Setelah penambahan titrant Tiosulfat maka kompleks ini dipecah dan bila konsentrasi Iod habis maka warna biru tadi akan hilang. Penambahan indikator amylum sebaiknya menjelang titik akhir titrasi karena kompleks iod-amilum yang terbentuk sukar dipecah pada titik akhir titrasi sehingga penggunaan Tiosulfat kelebihan berakibat terjadi kesalahan titrasi. Bila Iod masih banyak sekali bahkan dapat menguraikan amilum dan hasil penguraian ini mengganggu perubahan warna pada titik akhir titrasi.

2.      Chloroform

Penggunaan indikator ini untuk titrasi Iodometri, berdasarkan fungsi Chloroform sebagai pelarut organik yang melarutkan iodium dalam fase organik (fase nonpolar). Melarutnya Iodium dalam Chloroform memberi warna violet. Hal ini patut dipahami karena Iodium sukar larut dalam air, larut hanya sekitar 0,0013 mol perliter pada suhu 25O C. Tetapi sangat mudah larut dalam larutan KI karena membentuk Ion TriIodida (I3-) dan dalam Chloroform.
Setelah penambahan titrant Tiosulfat maka Iodium akan diubah menjadi Iodida dan bila konsentrasi iod habis maka warna violet tadi akan hilang.












III.            TITRASI PEMBENTUKAN SENYAWA KOMPLEKS

Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion), Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi–reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks, sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi. Contoh reaksi titrasi kompleksometri :
Ag+ + 2 CN à Ag(CN)2
Hg2+ + 2Cl- à HgCl2
(Khopkar, 2002).
Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan titrimetrik melibatkan pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang larut namun sedikit terdisosiasi. Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks yang dibentuk melalui reaksi ion logam, sebuah kation, dengan sebuah anion atau molekul netral (Basset, 1994).
Titrasi kompleksometri adalah titrasi  berdasarkan pembentukan senyawa kompleks antara kation dengan zat pembentuk kompleks. Salah satu zat pembentuk kompleks yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah garam dinatrium etilendiamina tetraasetat (dinatrium EDTA). Senyawa ini dengan banyak kation membentuk kompleks dengan perbandingan 1 : 1, beberapa valensinya:
Kestabilan dari senyawa kompleks yang terbentuk tergantung dari sifat kation dan pH dari larutan, oleh karena itu titrasi dilakukan pada pH tertentu.
Pada larutan yang terlalu alkalis perlu diperhitungkan kemungkinan mengendapnya logam hidroksida.
Penetapan titik akhir titrasi digunakan indikator logam, yaitu indikator yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion logam. Ikatan kompleks antara indikator dan ion logam harus lebih lemah dari pada ikatan kompleks antara larutan titer dan ion logam. Larutan indikator bebas mempunyai warna yang berbeda dengan larutan kompleks indikator.
Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Gugus-yang terikat pada ion pusat, disebut ligan, dan dalam larutan air, reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan :
M(H2O)n + L = M(H2O)(n-1) L + H2O
(Khopkar, 2002).
Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA, merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul, misalnya asam 1,2-diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina tetraasetat, EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen – penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam molekul (Rival, 1995).
Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan sejumlah besar ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif. Dalam larutan yang agak asam, dapat terjadi protonasi parsial EDTA tanpa pematahan sempurna kompleks logam, yang menghasilkan spesies seperti CuHY-. Ternyata bila beberapa ion logam yang ada dalam larutan tersebut maka titrasi dengan EDTA akan menunjukkan jumlah semua ion logam yang ada dalam larutan tersebut (Harjadi, 1993).
Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH, misal Mg, Ca, Cr, dan Ba dapat dititrasi pada pH = 11 EDTA. Sebagian besar titrasi kompleksometri mempergunakan indikator yang juga bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja kompleks logamnya mempunyai warna yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri. Indikator demikian disebut indikator metalokromat. Indikator jenis ini contohnya adalah Eriochrome black T; pyrocatechol violet; xylenol orange; calmagit; 1-(2-piridil-azonaftol), PAN, zincon, asam salisilat, metafalein dan calcein blue (Khopkar, 2002).
Satu-satunya ligan yang lazim dipakai pada masa lalu dalam pemeriksaan kimia adala ion sianida, CN-, karena sifatnya yang dapat membentuk kompleks yang mantap dengan ion perak dan ion nikel. Dengan ion perak, ion sianida membentuk senyawa kompleks perak-sianida, sedagkan dengan ion nilkel membentuk nikel-sianida. Kendala yang membatasi pemakaian-pemakaian ion sianoida dalam titrimetri adalah bahwa ion ini membentuk kompleks secara bertahap dengan ion logam lantaran ion ini merupakan ligan bergigi satu (Rival, 1995).
Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi. Ada lima syarat suatu indikator ion logam dapat digunakan pada pendeteksian visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum titik akhir, bila hampir semua ion logam telah berkompleks dengan EDTA, larutan akan berwarna kuat. Kedua, reaksi warna itu haruslah spesifik (khusus), atau sedikitnya selektif. Ketiga, kompleks-indikator logam itu harus memiliki kestabilan yang cukup, kalau tidak, karena disosiasi, tak akan diperoleh perubahan warna yang tajam. Namun, kompleks-indikator logam itu harus kurang stabil dibanding kompleks logam-EDTA untuk menjamin agar pada titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam dari kompleks-indikator logam ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat. Kelima, kontras warna antara indikator bebas dan kompleks-indikator logam harus sedemikian sehingga mudah diamati. Indikator harus sangat peka terhadap ion logam (yaitu, terhadap pM) sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin dengan titik ekuivalen. Terakhir, penentuan Ca dan Mg dapat dilakukan dengan titrasi EDTA, pH untuk titrasi adalah 10 dengan indikator eriochrome black T. Pada pH tinggi, 12, Mg(OH)2 akan mengendap, sehingga EDTA dapat dikonsumsi hanya oleh Ca2+ dengan indikator murexide (Basset, 1994).
Kesulitan yang timbul dari kompleks yang lebih rendah dapat dihindari dengan penggunaan bahan pengkelat sebagai titran. Bahan pengkelat yang mengandung baik oksigen maupun nitrogen secara umum efektif dalam membentuk kompleks-kompleks yang stabil dengan berbagai macam logam. Keunggulan EDTA adalah mudah larut dalam air, dapat diperoleh dalam keadaan murni, sehingga EDTA banyak dipakai dalam melakukan percobaan kompleksometri. Namun, karena adanya sejumlah tidak tertentu air, sebaiknya EDTA distandarisasikan dahulu misalnya dengan menggunakan larutan kadmium (Harjadi, 1993).
Reaksi-reaksi yang melibatkan pembentukan kompleks dipergunakan oleh kimiawan dalam prosedur titrimetrik maupun gravimetrik. Molekul yang bertindak sebagai ligan biasanya memiliki atom elektronegatif, misalnya nitrogen, oksigen, atau salah satu dari halogen. Ligan yang hanya mempunyai sepasang electron tak dipakai bersama, misalnya NH3, dikatakan unidentat. Ligan yang mempunyai dua gugus yang mampu membentuk dua ikatan dengan atom sentral dikatakan bidentat. Suatu contoh adalah etilendiamin NH2CH2CH2NH2 dengan kedua atom nitrogen mempunyai pasangan electron tak terpakai bersama. Ion tembaga (II) membentuk kompleks dengan dua molekul etilendiamin seperti berikut :
Cincin heterosiklik terbentuk oleh interaksi suatu ion logam dengan dua atau lebih gugus fungsioanal dalam ligan dinamakan cincin khelat; molekul organiknya pereaksi pembentuk khelat, dan kompleksnya dinamakan khelat atau senyawa khelat. Penggunaan analitik didasarkan pada penggunaan pereaksi khelat sebagai titran untuk ion-ion logam telah menunjukan pertumbuhan menarik.
Kompleksometri merupakan metoda titrasi yang pada reaksinya terjadi pembentukan larutan atau senyawa kompleks dengan kata lain membentuk hash berupa kompleks. Untuk dapat dipakai sebagai dasar suatu titrasi, reaksi pembentukan kompleks disamping harus memenuhi persyaratan umum amok titrasi, make kompleks yang terjadi hams stabil. Titrasi ini biasanya digunakan untuk penetapan kadar logam polivalen atau senyawanya dengan menggunakan NaaEDTA sebagai titran pembentuk kompleks (Tim Penyusun, 1983).

Tabel.  Kompleksometri
Logam
Ligan
Kompleks
Bilangan koordinasi
Logam
Geometri
Reaktivitas
Ag+
NH3
Ag(NH3)2+
2
Liniar
Labil
Hg2+
Cl-
HgC12
2
Liniar
Labil
Cu2+
NH3
Cu(NH3)42+
4
Tetrahedral
Labil
Ni2+
CN-
Ni(CN)42-
4
Persegi
planar
Labil
Co2+
H2O
CO(H2O)62+
6
Oktahedral
Labil
Co3+
NH3
Co(NH3)63+
6
Oktahedral
Inert
Cr3+
CN-
Cr(CN)63-
6
Oktahedral
Inert
Fe 3+
CN-
Fe(CN)63-
6
Oktahedral
Inert

Hanya beberapa ion logam seperti tembaga, kobal, nikel, seng, cadmium, dan merkuri (II) membentuk kompleks stabil dengan nitrogen seperti amoniak dan trine. Beberapa ion logam lain, misalnya alumunium, timbale, dan bismuth lebih baik berkompleks dengan ligan dengan atom oksigen sebagai donor electron. Beberapa pereaksi pembentuk khelat, yang mengandung baik oksigen maupun nitrogen terutama efektif dalam pembentukan kompleks stabil dengan berbagai logam. Dari ini yang terkenal ialah asam etilendiamintetraasetat, kadang-kadang dinyatakan asam etilendinitrilo, dan sering disingkat sebagai EDTA :
Istilah chelon telah disarankan sebagai nama umum untuk seluruh golongan peereaksi, termasuk poliamin seperti trine, asam poliamino karboksilat seperti EDTA, dan senyawa sejenis membentuk kompleks 1:1 dengan ion logam, larut dalam air dan karenanya dapat dipergunakan sebagai titran logam dan titrasinya disebut titrasi khelometrik.
Kilon praktis telah membuat suatu revolusi pada kimia analitik dari banyak unsur logam dan merupakan hal yang sangat penting dalam banayak lapangan. Reaksi pengkomplekan dengan suatu ion logam, melibatkan penggantian satu molekul pelarut atau lebih yang terkoordinasi dengan gugus-gugus nukleofilik lain, gugus yang terikat oleh pada ion pusat disebut ligan. Ligan dapat berupa sebuah molekul netral atau sebuah ion bermuatan, ligan dapat dengan baik diklasifikasi atas dasar banyaknya titik lekat kepada ion logam. Ligan sederhana seperti ion-ion halide atau molekul-molekul H2O atau NH3 adalah monodentat, yaitu ligan yang terikat pada ion logam hanya pada satu titik oleh penyumbangan atau pasangan elektron kepada logam, bila ion ligan itu mempunyai dua atom, maka molekul itu mempunyai dua atom penyumbang untuk membentuk dua ikatan koordinasi dengan ion logam yang lama, ligan itu disebut bidentat. Ligan multidental mempunyai lebih dari dua atom koordinasi per molekul, kestabilan termodinamik dari satu spesi merupakan ukuran sejaidi mana spesi ini akan terbentuk dari spesi-spesi lain pada kondisi tertentu, jika sistem itiu dibiarkan mencapai kesetimbangan (Vogel, 1994).
Ikatan pada EDTA, yaitu ikatan N yang bersifat basa mengikat ion H+ dari ikatan karboksil yang bersifat asam. Jadi dalam bentuk Ianitan pada EDTA ini terjadi reaksi intra molekuler (maksudnya dalam molekul itu sendiri), maka rumus senyawa tersebut disebut "zwitter ion". EDTA dijual dalam bentuk garam natriumnya, yang jauh lebih mudah larut daripada bentuk asamnya (Syafei, 1998)
Reaksi pengkomplekan dengan suatu ion logam, melibatkan penggantian satu molekul pelarut atau lebih yang terkoordinasi dengan gugus-gugus nukleofilik lain, gugus yang terikat oleh pada ion pusat disebut ligan. Ligan dapat berupa sebuah molekul netral atau sebuah ion bermuatan, ligan dapat dengan baik diklasifikasi atas dasar banyaknya titik lekat kepada ion logam. Ligan sederhana seperti ion-ion halide atau molekul-molekul H20 atau NH3 adalah monodentat, yaitu ligan yang terikat pada ion logam hanya pada satu titik oleh penyumbangan atau pasangan elektron kepada logam, bila ion ligan itu mempunyai dua atom, maka molekul itu mempunyai dua atom penyumbang untuk membentuk dua ikatan koordinasi dengan ion logam yang sama, ligan itu disebut bidentat. Ligan multidentat mempunyai lebih dari dua atom koordinasi per molekul, kestabilan termodinamik dari satu spesi merupakan ukuran sejauh mana spesi ini akan terbentuk dari spesi-spesi lain pada kondisi tertentu, jika sistern itu dibiarkan mencapai kesetimbangan
Ligan dapat berupa suatu senyawa organik seperti asam sitrat, EDTA, maupun senyawa anorganik seperti polifosfat. Untuk memperoleh ikatan metal yang stabil, diperlukan ligan yang mampu membentuk cincin 5-6 sudut dengan logam misalnya ikatan EDTA dengan Ca. Ion logam terkoordinasi dengan pasangan electron dari atom-atom N-EDTA dan juga dengan keempat gugus karboksil yangh terdapat pada molekul EDTA (Winarno, 1982).
Ligan dapat menghambat proses oksidasi, senyawa ini merupakan sinerjik anti oksidan karena dapat menghilangkan ion-ion logam yang mengkatalisis proses oksidasi (Winarno, 1982).
1.      Titrasi Khelometrik
EDTA merupakan ligan seksidentat yang berpotensi, yang dapat berkoordinasi dengan ion logam dengan pertolongan kedua nitrogen dan empas gugus karboksil. Dalam hal-hal lain, EDTA mungkin bersikap sebagai suatu ligan kuinkedentat atau kuadridentat yang mempunyai satu atau dua gugus karboksilnya bebas dari interaksi yang kuat dengan logamnya. Untuk memudahkan, bentuk asam EDTA bebas sering kali disingkat H4Y. Dalam larutan yang cukup asam, protonasi sebagian dari EDTA tanpa kerusakan lengkap dari kompleks iogam mungkin terjadi, yang menyebabkan terbentuknya zat seperti CuHY-; tetapi pada kondisi biasa semua empat hidrogen hilang, apabila ligan dikoordinasikan dengan ion logam. Pada harga-harga pH sangat tinggi, ion hidroksida mungkin menembus lingkungan koordinasi dari logam dan kompleks seperti Cu(OH) Y3- dapat terjadi.
2.      Efek Kompleks
Zat-zat lain dari titran kilon yang mungkin ada dalam larutan ion logam dapat membentuk kompleks dengan logamnya dan dengan demikian bersaing dengan reaksi titrasi yang diinginkan. Sebenarnya pembentukan kompleks demikian kadang-kadang dengan pertimbangan digunakan untuk mengatasi interferensi, yang dalam hal ini efek dari pengompleks disebut penutupan. Dengan ion-ion logam tertentu yang dengan mudah terhidrolisa, mungkin perlu untuk menambahkan ligan pengompleks agar mencegah pengendapan hidroksida logam. Jika tetapan stabilitas untuk semua kompleks diketahui, maka efek pembentukan kompleks terhadap reaksi titrasi EDTA dapat dihitung.
3.      Efek Hidrolisa
Hidrilisa ion logam mungkin bersaing dengan proses titran khelometrik. Peningkatan pH membuat efek ini lebih jelek dengan penggeseran ke keseimbangan yang benar dari jenis
M2+ + H2O à M(OH)+ H+
Hidrolisa secara ekstensif dapat mengakibatkan pengendapan hidroksida yang hanya bereaksi dengan EDTA secara perlahan-lahan, bahkan apabila pertimbangan-pertimbangan keseimbangan menguntungkan pembebtukkan khelonat logam. Sekali pun seringkali tetapan hidrolisa yang cocok untuk ion-ion logam tidak tersedia, dan karenanya pengaruh ini sering tidak dapat dihitung dengan teliti.
4.      Cara-cara Titrasi EDTA
Titrasi secara khelatometri telah dilakukan dengan baik terhadap semua kation biasa. Jenis-jenis titrasinya adalah :
a. Titrasi langsung, dapat dilakukan terhadap sedikitnya 25 kation dengan menggunakan indicator logam. Pereaksi pembentukan kompleks, seperti sitrat dan tartrat, sering ditambahkan untuk pencegahan endapan hidroksida logam. Buffer NH3-NH4Cl dengan pH 9 sampai 10 sering digunakan untuk logam yang membentuk kompleks dengan amoniak (Underwood, 1994).
b. Titrasi kembali, digunakan apabila reaksi antara kation dengan EDTA lambat atau apabila indicator yang sesuai tidak ada. EDTA berlebih ditambahkan berlebih dan yang bersisa dititrasi dengan larutan standar Mg dengan menggunakan calmagnite sebagai indicator. Kompleks Mg-EDTA mempunyai stabilitas relative rendah dan kation yang ditentukan tidak digantikan dengan magnesium. Cara ini dapat juga untuk menentukan logam dalam endapan, seperti Pb di dalam PbSO4 dan Ca dalam CaSOa (Underwood, 1994).
c. Titrasi substitusi, berguna bila tidak ada indicator yang sesuai untuk ion logam yang ditentukan. Sebuah larutan berlebih yang mengandung kompleks Mg-EDTA ditambahkan dan ion logam, misalnya M2+, menggantikan magnesium dari kompleks EDTA yang relative lemah itu (Underwood, 1994).
d. Titrasi secara tidak langsung, beberapa jenis telah dilaporkan, antara lain penentuan sulfat dengan menambahkan larutan baku barium berlebihan dan menitrasi kelebihan tersebut dengan EDTA. Juga pospat sudah ditentukan setelah pengendapan sebagai MgNH4PO4 yang tidak terlalu sukar lanrt lalu menitrasi kelebihan Mg (Underwood, 1994).
e. Cara titrasi alkalimetri, dengan menambahkan larutan Na2H2Y berlebihan kepada larutan analat yang bereaksi netral. Ion hydrogen yang dibebaskan dititrasi dengan larutan baku basa. (Underwood,1994)

5.      Kestabilan Kompleks
Kestabilan suatu kompleks jelas akan berhubungan dengan (a) kemampuan mengkompleks dari ion logam yang terlihat, dan (b) dengan cirri khas ligan itu, yang penting untuk memeriksa faktor-faktor ini dengan singkat.
(a) Kemampuan mengkompleks logam-logam digambarkan dengan baik menurut klasifikasi Schwarzenbach, yang dalam ganis besarnya didasarkan atas pembagian logam menjadi asam lewis (penerima pasangan electron) kelas A dan kelas B. Logam kelas A dicirikan oleh larutan afinitas (dalam larutan air) terhadap halogen, dan membentuk kompleks yang paling stabil engan anggota pertama grup table berkala. Kelas B lebih mudah berkoordinasi dengan I- daripada dengan f dalam larutan air dan membentuk kompleks terstabil dengan atom penyumbang kedua dari masing-masing grup itu yakni Nitrogen, Oksigen, dan F, Cl, C, P.
Konsep asam basa keras dan lunak adalah berguna dalam menandai ciri-ciri perilaku penerima pasangan electron kelas A dan kelas B (Vogel, 1994).
(b) Ciri-ciri khas ligan, dapat mempengaruhi kestabilan kompleks diman aligan itu terlibat, adalah (i) kekuatan basa dari ligan itu, (ii) sifat-sifat penyepitan, jika ada, dan (iii) efek-efek sterik (ruang). Efek sterik yang paling umum adalah efek oleh adanya suatu gugusan besar yang melekat pada atau berada berdekatan dengan atom penyumbang. (Vogel, 1994).
6.      Indikator Logam
Indikator logam adalah suatu indicator terdiri dari suatu zat yang umumnya senyawa organic yang dengan satu atau beberapa ion logam dapat membentuk senyawa kompleks yang warnanuya berlainan dengan warna indikatornya dalam keadaan bebas. Warna indicator asam basa akan tergantung, pada pH larutannya, sedangkan warna indicator logam sampai batas tertentu bergantung pada pM. Oleh karena itu indicator logam sering disebut sebagai "pM-slustive indicator" atau metalochrome-indikator (syafei, 1998).
Beberapa macam indicator logam yang digunakan adalah sebagai berikut :



a.      Eriochrome Black T

Eriochrome Black T merupakan indikator kompleksometri yang merupakan bagian dari titrasi kompleksometri, misalnya dalam proses penentuan kekerasan air. Ini adalah dye.It azo juga dikenal sebagai ET-00. Dalam bentuk terprotonasi nya, Eriochrome Black T biru. Ternyata merah ketika membentuk kompleks dengan kalsium, magnesium, atau ion logam lainnya. Rumus kimianya dapat ditulis sebagai HOC10H6N = NC10H4 (OH) (NO2) SO3Na.
Eriochrome Black T adalah biru, tapi ternyata merah di hadapan logam.
Ketika digunakan sebagai indikator dalam titrasi EDTA, akhir biru karakteristik titik-tiba saat EDTA memadai telah ditambahkan dan membentuk kompleks ion logam dengan EDTA bukan Eriochrome.Eriochrome Black T juga telah digunakan untuk mendeteksi keberadaan logam tanah
.

H2In- à  HIn2- pKa= 6,3
biru
HIn2- à In3- pKa= 11,6
jingga kekuningan

Kelemahan indikator ini, tak stabil dalam larutan,sehingga larutan tidak dapat disimpan lama






b.      Murexide
Kelat Murexide dengan logam berwarna merah muda dan indikator bebasnya berwarna ungu. Seperti halnya Calcon, Murexide sangat cocok untuk titrasi penetapan Ca pada pH tinggi, pH 11-13 tanpa gangguan ion Mg++. Perubahan warnanya dari warna merah muda menjadi ungu. Disini tidak diperlukan Masking Agent untuk menentukan kesadahan Ca karena ion Mg dan logam lainnya tidak menggangu pada pH diatas 11. Logam-logam tadi mengendap dalam bentuk hidroksida.



c.       Xylanol Orange (XO)
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/76/Xylenol_orange.png/200px-Xylenol_orange.png
Indikator ini dibuat dengan mereaksikan o-kresolsulfonftalein dengan formaldehid dan asam iminodiasetat, sehingga diadisikan satu atau dua gugus pengkelat.
Sebagai Indikator asam-basa, Xylenol orange berwarna kuning lemon dalam larutan asam (pH < 5,4) dan merah pada pH 5,5 – 7,4. Sedangkan kelat indikator logam berwarna violet atau merah. Indikator ini dipakai pada pH rendah (< 5,4) atau dalam HNO3 0,2 M untuk titrasi kelat EDTA yang kuat. Misal untuk Bi dan Th sevara langsung pada pH 1,5 – 3,0 dan tak langsung untuk Zr dan Fe (III).


d.      Calmagite
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/0d/Calmagite.png/200px-Calmagite.png
Calmagite merupakan indikator kompleksometri digunakan dalam kimia analitik untuk mengidentifikasi keberadaan ion logam dalam larutan. Seperti dengan ion logam calmagite indikator lain akan berubah warna saat itu pasti akan ion. Calmagite akan merah anggur bila terikat pada ion logam dan mungkin biru, merah, atau oranye jika tidak terikat pada ion logam. Calmagite sering digunakan dalam hubungannya dengan EDTA, bahan pengikat kuat logam.
Seperti halnya Erio T, calmagite mengkompleks banyak ion logam. Daerah kerjanya mencakup pH 8,1 – 12,4 dan warna indikator bebasnya biru. Larutan Calmagite stabil, tetapi dalam hal-hal lain sifatnya sama dengan Erio T, antara lain mengalami blocking oleh Cu, Ni, Fe (III), dan Al. Sifat asam basa Calmagite dapat disajikan secara ringkas sebagai berikut :
pH pH
H2Ind- Hind= Ind3- 8,1 12,4
(merah) (Biru) (Jingga)


e.        Arsenazo I
Indikator ini dipakai untuk Ca maupun Mg, sehingga dalam titirasi Ca++ tidak perlu penambahan Mg++. Selain itu, keuntungan besar ialah, indikator ini tidak diblock oleh Cu (II) dan Fe (III) dalam jumlah kecil. Keuntungan lain bereaksi cepat sehingga perubahan warna juga cepat.
 Arsenazo I merupakan indikator jitu untuk titrasi logam alkali tanah dan Th (IV) dengan EDTA.


f.        NAS
Warna NAS merah-violet dalam larutan yang sangat asam dan merah-jingga pada pH 3,5 keatas. Daerah kerja NAS kira-kira pH 3 – 9. Kelatnya dengan Cu, Zn, dan Pb berwarna kuning pucat, dan dengan beberapa ion logam lain kuning atau jingga pucat.
Penggunaan NAS cukup luas dan dianjurkan untuk tittrasi Cu, Co (II), Cd, Ni, Zn,.Al, dan beberapa kation lain dengan EDTA. Dalm banyak penggunaannya, perlu atau membantu sekali ditambahkan sedikit Cu (II) supaya bereaksi dengan indikator. Indikator-Cu ini baru terurai kembali bila titrasi sudah selesai. Penambahan Cu (II) mendekati akhir titrasi, tanpa Cu pun tampak perubahan warna dari jingga menjadi merah.
g.       Pyrocatechol Violet

Pyrocatechol
Indikator ini asam berbasa tiga, tetapi karena ion H+ pertama mengion hampir sempurna, hanya dalam keadaan asam sekali terdapat dalam bentuk molekul bebas dengan warna merah. Antara pH 2 dan 6 karena pengionan SO3H, berwarna kuning, antara pH 7 – 10 violet dan diatas pH 10 warna purpur. Kebanyakan kelat logamnya berwarna biru, sehingga baik dipakai pada pH 2 dan 6. Dengan indikator ini dapat ditentukan campuran Bi-Pb dengan jalan menitrasi pertama pada pH 2 untuk Bi , terjadi warna biru menjadi kuning dan pH dinaikkan menjadi 5, titirasi dilanjutkan untuk Pb dengan perubahan warna dari biru menjadi kuning.

h.       Calcon

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/83/Calcein.svg/200px-Calcein.svg.png
Calcon merupakan garam natrium dari Eriochrom Blue Black R, yang disebut juga Pontachrome Blue Black R. Molekul indikator yang netral, H3In, berwana hijau dan hanya terdapat dalam larutan asam kuat. Pada pH 7 warna menjadi merah sampai pH 10, lalu biru sampai pH 13,5 dan diatas itu jingga.
Kelat calcon dengan logam berwarna merah dan sangat cocok untuk titrasi Ca pada pH 12,5 – 13 tanpa terganggu oleh Mg. Perubahan warna pada titik akhir titrasi dari warna merah ke biru murni. Dengan indikator ini kesadahan air oleh Ca saja dapat ditentukan.



Indikator yang banyak  digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah:

a.       Hitam eriokrom
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/aa/Erio_T.svg/200px-Erio_T.svg.png
            Indikator ini peka terhadap perubahan kadar logam dan pH larutan. Pada pH 8 -10 senyawa ini berwarna biru dan kompleksnya berwarna merah anggur. Pada pH 5 senyawa itu sendiri berwarna merah, sehingga titik akhir sukar diamati, demikian juga pada pH 12. Umumnya titrasi dengan indikator ini dilakukan pada pH 10.
b.  Jingga xilenol
            Indikator ini berwarna kuning sitrun dalam suasana asam dan merah dalam suasana alkali. Kompleks logam-jingga xilenol berwarna merah, karena itu digunakan pada titrasi dalam suasana asam.
c.  Biru Hidroksi Naftol

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/bc/Hydroxynaphthol_blue.png/200px-Hydroxynaphthol_blue.png
            Indikator ini memberikan warna merah sampai lembayung pada daerah pH 12 –13 dan menjadi biru jernih jika terjadi kelebihan edetat.
Titrasi kompleksometri umumnya dilakukan secara langsung untuk logam yang dengan cepat membentuk senyawa kompleks, sedangkan yang lambat membentuk senyawa kompleks dilakukan titrasi kembali.

7.      Indikator untuk Titrasi Khelometrik
Pada dasarnya indikator metalokhromik merupakan senyawa organik berwama, yang membentuk khelat dengan ion logam. Khelatnya harus mempunyai warna lain dari warana indikator bebasnya, dan jika suatu kosong indikator harus dihindari dan titik akhir yang tajam diperoleh, maka indicator harus melepaskan ion logamnya kepada titran EDTA pada suatu harga pM sangat dekat dengan titik ekivalen. Indicator metalokhromik biasa juga mempunyai sifat asam-basa dan tanggap sebagai indikator pH maupun sebagai indikator terhadap PM.








 IV.            TITRASI PENGENDAPAN

Titrasi yang menggunakan indikator ini adalah titrasi presipitimetri seperti pada Argentometri. Dalam Titrasi Argentometri dibedakan menjadi 3 macam cara berdasar indikator yang dipakai untuk titik akhir titrasi, yaitu : cara Mohr, cara Fajans, dan cara Volhard.
Jadi dalam tiga cara tersebut titrant masing-masing tertentu, indikator dan pH untuk cara Mohr dan Volhard tertentu, sedang dalam cara Fajans tidak harus tertentu dan pH disesuaikan dengan indikator.
TABEL INDIKATOR ADSORPSI
Indikator
        Titrasi
Larutan
Fluorescein
Dichlorofluorescein
bromcresol green
eosin
methyl violet
rhodamin 6
thorin
bromphenol blue
orthochrome T
Cl- dengan Ag+
Cl- dengan Ag+
SCN- dengan Ag+
Br-, I-, SCN- dengan Ag+
Ag+ dengan Cl-
G Ag+ dengan Br
SO42-  dengan Ba2+
Hg2+ dengan Cl-
Pb2+ dengan CrO42-
              pH 7-8
pH 4
pH 4-5
pH 2
asam
HNO3 (0,3M)
pH 1,5-3,5
larutan 0,1 M
netral, larutan 0,02M


a.      Indikator Argentometri Mohr
Indikator yang digunakan adalah K2CrO4 yang pada titik akhir titrasi bereaksi dengan larutan titrant membentuk endapan yang berwarna merah bata.

K2CrO4 + 2 AgNO3
à 2 KNO3 + Ag2CrO4↓            (merah bata)
Konsentrasi CrO42- yang ditambahkan tidak sembarangan, tetapi harus dihitung berdasarkan Ksp zat uji (misal AgCl) dan Ksp Ag2CrO4. Dalam penggunaan sesungguhnya, konsentrasi 0,0072 M terlalu besar karena warna K2CrO4 terlalu kuning sehingga mengakibatkan perubahan warna pada titik akhir titrasi sulit dilihat. Maka harus pakai konsentrasi lebih rendah dan tampaknya 0,0025 merupakan konsentrasi optimal. Tetapi karena diturunkan maka perlu Ag+ > 1,33 x 10-5 untuk dapat menghasilkan endapan merah sebagai indikator. Disamping itu masih diperlukan sejumlah AgNO3 lagi agar endapan cukup banyak dan tampak. Untuk larutan 0,1 M tidak berpengaruh, tetapi untuk larutan encer berpengaruh serius. Koreksinya berupa :
- Titrasi blanko dengan suspensi CaCO3 yang bebas Cl-
-    Untuk analat yang berbeda perlu digunakan konsentrasi indikator yang berbeda.
Dalam Penggunaan K2CrO4 sebaiknya pH larutan dikoreksi agar berada pada pH netral atau sedikit alkali. Bila pH rendah ion CrO42- sebagian berubah menjadi Cr2O72- oleh karena disosiasi asam yang melepaskan ion H+ yang mana dapat mengurangi konsentrasi indikator dan menyebabkan tidak timbul endapan atau terlambat menunjukkan titik akhir titrasi.
Dalam titrasi Argentometri ini penetapan kadar I- dan SCN- tidak dapat ditetapkan kadarnya dengan cara ini, karena endapan AgI maupun AgSCN sangat kuat menyerap Kromat sehingga hasilnya tidak memuaskan. Perak (Ag+) juga tidak dapat ditetepkan dengan cara ini karena endapan perak kromat yang mula-mula terbentuk pada awal titrasi sukar dipecah.
Pengganggu dalam penggunaan indikator ini adalah adanya ion Pb++ dan Ba++ yang mengendapkan ion CrO42- menjadi endapan yang berwarna kuning yang tidak larut oleh ion Ag+berupa PbCrO4 dan BaCrO4 yang dapat mengurangi dan menggangu titik akhir titrasi.
Pb++ + CrO42
à¯PbCrO4
Ba++ + CrO42 à ¯BaCrO4

b.      Indikator Argentometri Fajans
Indikator yang digunakan adalah indikator adsorpsi. Indikator adsorpsi merupakan zat yang dapat diserap pada permukaan endapan dan menyebabkan timbulnya warna. Penyerapan diatur pada titik ekivalen dengan memilih indikator dan pH larutan.
Cara kerja indikator adsoprsi ialah indikator ini asam lemah atau basa lemah organik yang dapat membentuk endapan dengan perak. Misal Flurescein (HFl) pada penetapan Cl-. Dalam larutan Fluorescein akan mengion :
Ion Fl- inilah yang diserap oleh endapan AgX dan menyebabkan berwarna merah muda. Karena Penyerapan terjadi pada permukaan dalam titrasi ini diusahakan agar permukaaan endapan itu seluas mungkin supaya perubahan warna juga tampak sejelas mungkin Maka endapan harus berukuran koloid. Penyerapan terjadi apabila endapan yang koloid itu bermuatan positif, dengan perkataan lain setelah sedikit kelebihan titrant ( ion Ag+ ).
Pada tahap-tahap pertama dalam titrasi, endapan terdapat dalam lingkungan dimana masih ada kelebihan ion X- dibanding dengan Ag+ ; maka endapan menyerap ion-ion X- sehingga butiran-butiran koloid menjadi negatif. Makin lanjut titrasi dilakukan, makin kurang kelebihan ion X- ; pada titik ekivalen semua X- diikat oleh Ag+, sehingga koloid jadi netral. Setetes titrant menyebabkan kelebihan ion Ag+, sehingga koloid jadi positif, dan menarik ion Fl- yang menyebabkan warna endapan mendadak menjadi merah muda. Pada waktu bersamaan terjadi penggumpalan koloid, maka larutan yang semula keruh menjadi jernih atau lebih jernih.
Titik akhir titrasi ini diketahui berdasarkan tiga macam perubahan, yaitu :
o   Endapan yang semula putih menjadi merah muda dan endapan kelihatan menggumpal,
o    Larutan yang semula keruh menjadi lebih jernih
o   Larutan yang semula kuning hijau hampir – hampir tidak berwarna lagi.

Dari keseimbangan pengionan HFl terlihat bahwa konsentrasi Fl- akan sangat dipengaruhi oleh pH , makin rendah pH makin mengarah kekiri keseimbangan tersebut dan makin kecil konsentrasi Fl- . Bila jumlah Fl- terlalu kecil maka perubahan warna akan kurang jelas dan titik akhir akan terlambat Kebanyakan indikator adsorbsi bersifat asam lemah maka umumnya tidak dapat dipakai dalam larutan yang terlalu asam (misal HNO3 6N).
Suatu kesulitan dalam menggunakan indikator adsorpsi ialah, bahwa banyak diantara zat warna tersebut membuat endapan perak menjadi peka cahaya ( fotosensitifasi ) dan menyebabkan endapan terurai. Titrasi menggunakan indikator adsorpsi biasanya cepat, akurat dan terpercaya . Sebaliknya penerapannnya agak terbatas karena memerlukan endapan berbentuk koloid yang juga harus terbentuk dengan cepat.
c.       Indikator Argentometri Volhard

Indikator yang digunakan dalam titrasi ini adalah indikator Fe3+ (Ferri Ammonium Nitrat). Indikator ini bekerja berdasarkan pembentukan kompleks yang larut antara Fe3+ dengan ion SCN- membentuk ion kompleks yang sangat kuat warnanya yaitu merah :

SCN+ + Fe3+
à  Fe(SCN) ++    (merah)
Konsentrasi indikator dalam titrasi Volhard juga tidak boleh sembarang karena titrant bereaksi dengan titrat maupun indikator, sehingga kedua reaksi itu saling mempengaruhi. Disamping itu bila konsentrasi indikator lebih besar dari 0,2 M warna asli kuningnya cukup jelas sehingga menyulitkan pengamatan warna kompleks Fe(SCN)++ . Konsentrasi Fe3+ yang umum digunakan dalam titrasi kira-kira 0,01 M. Dalam prakteknya, konsentrasi indikator dapat lebih kecil lagi, karena ternyata tidak membawa kesalahan titrasi yang tidak terlalu besar.
Pada penetapan kadar Iodida (I-), penambahan indikator Fe3+ dilakukan setelah Iodida diendapkan sebagai AgI, agar tidak dioksidasi oleh Fe3+ menjadi Iodium.
2 Fe3+ + 2 I- à 2 Fe++ + I
Reaksi ini berlangsung karena kesanggupan Fe3+ untuk mereduksi / menerima elektron dari Iodida, oleh sebab itu pada titrasi kembali hendaknya I- harus tepat habis diendapkan sebagai AgI.

















BAB IV
KESIMPULAN

Dari  uraian di atas jelas bahwa indicator sangat berperan dalam penentuan titik akhir titrasi. Setiap jenis titrasi akan berbeda pula indicator yang digunakan.
1.      Indikator asam basa
Dimana perubahan warna indicator terjadi di daerah asam maupun basa sesuai reaksinya. Indikator akan berbeda warnanya sebelum dan sesudah terdisosiasi menjadi ion-ionnya.
2.      Indikator Redoks
Pada indicator redoks akan terjadi perubahan warna pada saat tereduksi dan saat teroksidasi.
3.      Indikator Pembentukan senyawa kompleks
Dimana indicator akan membentuk ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan.
4.      Indikator Pengendapan
Dalam Titrasi Argentometri dibedakan menjadi 3 macam cara berdasarkan indikator yang dipakai untuk titik akhir titrasi, yaitu : cara Mohr, cara Fajans, dan cara Volhard.
Jadi dalam tiga cara tersebut titrant masing-masing tertentu, indikator dan pH untuk cara Mohr dan Volhard tertentu, sedang dalam cara Fajans tidak harus tertentu dan pH disesuaikan dengan indicator.

DAFTAR PUSTAKA

1.       http://www.chem-is try.org/materi_kimia/kimia_fisika1/kesetimbangan_asam_basa/indikator_asam_basa/
28.  http://en.wikipedia.org/wiki/Hydroxynaphthol_blue

1 komentar: